Friday 4 January 2013

Menulislah Kawan


Menulis, bagi saya adalah sebuah kegiatan magis yang bisa membuat otak tidak statis dan skeptis. Menulis adalah sesuatu yang manis semanis brownies. Karena hanya dengan menulis saya bisa sejenak melupakan berbagai problema kehidupan. Menulis adalah proses belajar seumur hidup. Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara menyapa orang lain yang entah di mana.  Menulis adalah sebuah cara untuk berekspresi, dan meninggalkan jejak untuk masa yang tak terhingga. Dengan menulis kita bisa mencurahkan perasaan sehingga tekanan batin bisa berkurang sedikit demi sedikit.
Menurut penelitian James Pennebaker, Universitas Texas, bisa memperkuat sel-sel kekebalan tubuh yang dikenal dengan T-Lymphocytes. Pennebaker meyakini, menuliskan peristiwa-peristiwa yang penuh tekanan akan membantu kita memahaminya. Sehingga dapat mengurangi dampak penyebab strees. Menulis juga dapat mengasah otak kiri yang berkaitan dengan analisis dan rasional. Kegiatan magis ini juga bisa menyingkirkan hambatan mental dan memungkinkan kita untuk menggunakan semua daya otak untuk memahami diri kita, orang lain, serta dunia sekitar dengan lebih baik.

Menulis, entahlah sejak kapan saya menyukainya. Mungkin semenjak saya kenal dengan sesuatu bernama diary di kelas 5 SD. Yaah...saya hanya pandai menulis diary atau menulis untuk konsumsi saya sendiri dan belum berani untuk membaginya kepada orang lain. Ah.. tulisan saya tidak elok dibaca orang. Tulisan saya masih memerlukan banyak koreksi. Keberanian itu muncul ketika aku mulai kuliah. Mencoba mencari ‘pelarian’ dari sebuah dunia baru yang belum saya pahami. Dan ternyata menulis itu menyenangkan. Semua tulisan diary pun disulap menjadi sesuatu lebih bermakna. Alhamdulillah biidznillah saya diizinkan Allah bertemu dengan orang-orang hebat dalam dunia tulis menulis dan bisa belajar banyak dari mereka. Pak Dzikrullah dan istrinya Bu Santi Soekanto dari The Brunei Times, Mbak Afifah Afra penulis De Winst, Mbak Asri Istiqomah dan Mbak Mastris S. Kabun dari Indiva Media Kreasi, Mas Afif dari Republika, Mbak Indari Mastuti, Mas Ahmed Widad dari VOA-Islam, dan yang pertama kali mensupport saya mempublikasikan tulisan saya dosen saya tersayang Ustadzah Halimah Sa’diyah Nasution, barakallah alaiha.
Saya hanyalah seorang pemula yang masih perlu banyak belajar dan masih banyak dipoles. Syaikh As-Sa’di rahimuhallah berkata Allah subhanahu wa ta’ala merahmati seorang hamba yang membela agamanya, walaupun hanya dengan sepenggal kalimat. Yah... inilah jalan dakwah yang saya pilih, karena ini adalah kebiasaan para ulama. Bukankah Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah adalah seorang penulis hingga menelurkan karya fenomenalnya di bidang tafsir dan tarikh yang dijadikan rujukan oleh banyak ulama setelahnya? Ibnu Katsir, Imam an-Nawawi, Imam Bukhari, Imam Muslim, Fakhruddin ar-Razi, Ibnu Hisyam, Sayyid Quthb, dan semua ulama adalah seorang penulis. Buya Hamkan, seorang ulama asal Maninjau, panutan umat yang sangat disegani pun seorang penulis. Dan karya-karya mereka bisa kita rasakan sampai sekarang, bahkan menjadi buku-buku rujukan ataupun muqarar kuliah. Mereka telah tiada namun tulisannya seakan kekal abadi. Kita bisa belajar langsung kepada ulama meskipun hanya melalui tulisannya. Mereka sudah lama terkubur tapi goresan tintanya sekaan berkata-kata. Saya pun berkenalan dengan sosok Sayyid Quthb melalui tulisan beliau rahimahullah, Ma’alim fi ath-Thariq. 
Din.. banyak da’i  saat ini yang lebih pandai berbicara daripada menulis. Padahal tulisan lebih abadi dari ucapan” kata Bapak. “Teruslah menulis anakku, jangan mengharapkan imbalan dari siapapun. Yang terpenting adalah tulisanmu bisa bermanfaat untuk orang lain. Mungkin sekarang baru tulisan-tulisan kecil, siapa tahu besok bisa jadi buku”, kata-kata Bapak yang sekarang nggak pernah absen setiap telpon selain kata ‘ikhlas’ dan selalu saya amini. Semoga bisa merambah ke buku..aamiin
Dengan tulisan kita bisa berjihad, kedudukannya seperti jihad bil lisan. Karena menulis merupakan suatu cara untuk berkata. Dan jihad fisik tidak dilakukan sebelum ada jihad dengan lisan. Jihad dengan lisan perannya lebih besar dari jihad fisik, karena orang tidak mungkin termotivasi untuk berjihad fisik sebelum dimotivasi dengan jihad lisan maupun tulisan.
Tak jauh berbeda dengan lisan, segala sesuatu yang kita tulis akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat, pesan Bu Santi. Nulis itu harus ikhlas lillahi ta’ala kalo nggak ya tulisannya non-sense, tambah pemred majalah ALIA ini. Teringat dengan nasihat ustadz Badru yang diposting di blog-nya Kampung 2 Menara :
Dengan pensil/pena banyak hal hebat yang dibuat, banyak cerita dahsyat yang ditulis, tapi itu bukan karena pensil/penanya tapi karena tangan yang membimbingnya. Maka dari itu walau banyak hal yang baik dan hebat yang kita buat, ingatlah bahwa Allah Rabb kita yang membimbing kita untuk selalu melakukan hal baik dan hebat. Oleh karena itu jangan menjadikan diri kita sombong karena hal yang kita lakukan, tapi bertawadhu'lah, karena semua yang baik-baik itu berasal dari Allah.Saat menulis, pensil/pena tak selalu benar. Maka biarkanlah penghapus untuk menghapus hal yg salah. Manusia tak Akan selalu benar. Karena itu biarkanlah seseorang yg lain memberikan nasihat kpd kita utk memperbaiki diri kita.Walau dari banyak pensil/pena bentuknya sama, tapi kualitas isinyalah yang diperhitungkan. Manusia itu semua sama tapi hanya kualitas hati dan amalan lah yang diperhitungkan
Teringat sebuah hadits yang menyebutkan ada tiga amalan yang tidak terputus meski kita sudah meninggal, yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan. Semoga apa yang saya tulis bisa menjadi ilmu yang bermanfaat buat saya dan orang lain dan menjadi amal sholih buat saya da norang lain. Ibu selalu berpesan Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain tanpa harus mengharapkan imbalan Nak. Kata-kata beliau tidak hanya tertulis di buku impian saya, tapi juga dalam sanubari saya. Bukan penghargaan atau sanjungan yang saya butuhkan, saya hanya ingin tulisan saya bisa bermanfaat untuk orang lain. Yah meskipun tulisannya masih abal-abal belum sehebat Mas Salim A Fillah atauh Dr. Amru Kholid.
Teringat ada syair Arab berbunyi :
أموت ويبقى كل ما قد كتبته * فياليت من يقرأ مقالي دعاليا
لعل إلهي أن يمن علي بلطفه * ويرحم تقصيري وسوء فعاليا
Aku akan mati... sedangkan yang aku tulis akan terus hidup
Aduhai kiranya orang yang membaca tulisanku sudi mendoakanku
Semoga dengan kelembutan-Nya, Rabbku memberikan anugerah kepadaku
Dan sudi memaafkan kekuranganku maupun buruknya kelakuanku
Menulislah kawan... umat rindu dengan tulisan-tulisan bermanfaat.
Wallahu ta'ala a'lam

0 comments:

Post a Comment

 

Ich bin Muslime ^^ Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template