Monday, 5 November 2012

Allah Sang Maha Pemberi Rezeki

sampc0d67c53fa10bef2
“Pak Rahmat yakin mau pensiun sekarang. Memang sih usia bapak sudah memasuki usia pensiun tapi Pak Rahmat masih produktif dan kinerja Pak Rahmat juga bagus. Coba bapak pikirkan lagi keputusan bapak. Nanti bapak menyesal lho!“, tanya Pak Bagas seorang direktur sebuah perusahaan baja ternama se-Asia Tenggara.

“Insya Allah pilihan saya untuk pensiun sekarang sudah bulat Pak. Insya Allah saya tidak menyesal“, jawab Pak Rahmat.
“Apa alasan bapak mau pensiun sekarang? Cobalah bapak pikirkan lagi. Gimana kalau gaji bapak saya tambah?“, tanya pak Bagas lagi.
“Selama 35 tahun waktu saya habis untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Saya merasa ada yang kurang dalam diri saya karena selama ini waktu saya hanya dihabiskan untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Saya ingin mencari sesuatu yang membuat hati saya damai. Saya ingin memperdalam ilmu agama dan menghafal Al-Qur’an. Saya merasa hidup di dunia ini tidak akan lama. Sedangkan tabungan saya untuk hidup di akhirat belum banyak. Jadi ini waktu saya menabung untuk kehidupan akhirat“, jawab Pak Rahmat dengan bijak.
“Hahahaha....alasan bapak ada-ada saja. Saya pikir bapak ingin pensiun karena bapak ingin berbisnis dan menikmati hari tua bapak. Pak Rahmat yakin dengan pilihan bapak itu. Lalu finansial keluarga bapak bagaimana. Bukannya anak bapak masih sekolah semua. Lagipula bukankah menafkahi keluarga termasuk ibadah juga pak? Ayolah...bapak sangat produktif. Gaji bapak saya tambahin deh”, tawar pak Bagas.
“Terima kasih atas kepercayaan dan tawaran Pak Bagas kepada saya. Saya memang ingin berbisnis setelah saya pensiun Pak. Berbisnis untuk akhirat. Masalah rezeki ada di tangan Allah Pak. Yang penting kita berusaha untuk mencarinya dan tidak berpangku tangan. Saya yakin, apabila saya mencari akhirat, Insya Allah kehidupan dunia akan terpegang. Lagipula, Allah lah yang mengatur rezeki kita. Bukan begitu Pak Bagas?”, balas Pak Rahmat.
“Lantas bagaimana bapak menafkahi keluarga bapak? Apakah hanya dengan berdo’a saja tanpa ada usaha rezeki akan turun dari langit?”

“Tentu tidak Pak Bagas. Allah memerintahkan kita untuk bertebaran di muka bumi mencari karunia-Nya. Dan umat Islam tidak diperbolehkan untuk berputus asa atas rahmat Allah. Saya akan membuka bisnis kecil-kecilan. Saya ingin meniru Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam perniagaan.“
“Tadi Pak Rahmat bilang kalau bapak juga ingin menghafal Al-Qur’an.“
“Ya...saya berniat untuk mnghafal Al-Qur’an. Menurut saya, seorang Muslim yang tidak menghafal satu surat pun dalam Al-Qur’an sangatlah memalukan. Bagaimana dengan sholat kita apabila kita tidak hafal surat Al-Fatihah. Lalu apakah dalam sholat kita seumur hidup hanya membaca surat Al-Fatihah saja tanpa ditambah dengan surat lain. Saya sadar kalau usia saya sudah tua dan kemampuan saya untuk menghafal sudah tidak cemerlang lagi. Tapi jika saya bertekad, biidznillah saya pasti bisa.”
“Lho…bukannya anak-anak bapak disekolahkan di pesantren yang ada Tahfizhul Qur’annya?”
“Saya memang memiliki cita-cita untuk menghafal Al-Qur’an sudah lama. Maka dari itu saya menunggu masa pensiun saya. Dulu saya berpikir kalau saya tidak bisa menghafal Al-Qur’an, setidaknya anak-anak saya harus bisa menjadi penghafal Al-Qur’an. Makanya saya memasukkan anak saya ke pesantren Tahfizhul Qur’an. Tapi saya tidak mau kalah dengan anak-anak saya. Saya ingin melanjutkan mimpi saya yang tertunda Pak Bagas.”
“Ya sudahlah Pak Rahmat. Semoga usahanya sukses dan diberi kemudahan dalam menghafal Al-Qur’annya.”
Dalam keseharian, banyak kita jumpai orang-orang seperti Pak Rahmat dan Pak Bagas. Pak Rahmat, orang yang rela melepaskan kehidupan dunianya untuk mencari kehidupan akhirat. Beliau tidak ragu untuk pensiun di saat orang lain sibuk mencari pekerjaan. Banyak orang yang mungkin berpikiran bahwa apa yang Pak Rahmat lakukan tidak wajar bahkan gila. Apalagi di tengah zaman yang semua kebutuhan lebih mahal seperti ini.
Memang zaman sekarang ini semuanya serba mahal. Pendidikan hanya bisa dinikmati oleh orang-orang berduit. Berobat ke rumah sakit hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berdompet tebal. Bukan hanya itu, harga bahan pangan, sandang, dan papan juga melaju naik. Apabila dibuat perhitungan matematika mungkin jadinya lebih besar pasak daripada tiang.
Banyak orang lebih sibuk dengan dunianya. Bekerja dari pagi sampai pagi lagi. Menyibukkan diri mencari penghasilan dan menumpuk kekayaan. Tapi ibadah yang paling utama justru terlupakan. Sholat shubuh bablas dengan alasan telat bangun karena terlalu lelah bekerja. Sholat dhuhur ditinggalkan karena masih sibuk bekerja. Sholat ashar terlupakan saking sibuknya bekerja. Sholat maghrib terlewatkan karena lelah baru pulang kerja. Sholat isya ketiduran kecapekan setelah bekerja seharian.
Di mata manusia mungkin orang yang bekerja dari pagi sampai pagi lagi dinilai sebagai orang yang rajin dan ulet. Namun di mata Allah orang tersebut tidak berharga apabila ibadahnya ditinggalkan. Dan penilaian Allah terhadap seorang hamba lebih mulia daripada penilaian hamba lainnya.
Allah yang mengatur rezeki setiap hamba. Allah-lah yang berhak melapangkan dan menyempitkan rezeki hamba-Nya. Dalam al-Qur’an sendiri ada 5 ayat yang menyebutkan hal ini.
Yang pertama Allah menyebutkan dalam surat ar-Ra’d ayat 26:
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ...
“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi bagi siapa yang Dia kehendaki...”
Surat al-Qasas ayat 82 :
...اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ...
“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya dan membatasi bagi siapa yang Dia kehendaki...”
Kemudian surat al-Ankabut ayat 62 :
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَه
“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya dan Dia (pula) yang membatasi baginya...”
Surat ar-Ruum ayat 37 :
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِر...
“Dan tidaklah mereka memperhatikan bahwa Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya dan Dia (pula) yang membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki)...”
Surat az-Zumar ayat 52:
أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ أَوَلَمْ يَعْلَمُوا
“Dan tidaklah mereka mengetahi bahwa Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya dan Dia (pula) yang membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki)...”
Rezeki yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah yang sesuai dengan dirinya. Ada orang lain yang Allah lebihkan dan ada orang lain yang Allah beri pas-pasan. Pembagian ini sudah sangat adil. Allah berkalam dalam surat an-Nahl ayat 71:
وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ...
“Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki...”
Allah lah yang memberi rezeki kepada kita. Meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya pemberi rezeki menyangkut tauhid rububiyah seorang Muslim. Allah berkalam dalam surat adz-Dzaariyaat ayat 58 :
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
"Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rizki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh."\
Dan Allah memberi rezeki setiap hamba-Nya tanpa perhitungan.
إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab." (Ali 'Imran : 37)
Lebih baik mensyukuri nikmat yang ada daripada terus mengeluh berharap nikmat lebih. Bukankah Allah mengatakan laa in syakartum laa adziidannakum, apabila kamu bersyukur maka Aku akan menambahnya? Lagipula perhitungan matematika manusia sangat berbeda dengan matematika Allah. Matematika manusia membuat berbagai hal jadi tampak mustahil, namun matematika Allah membuat semuanya jadi realitas.
Buktinya, ketika ayah saya masih bekerja, 5 anaknya masih menempuh studi dari jenjang SD sampai perguruan tinggi. Dan ayah saya lebih memilih lembaga pendidikan berkualitas baik meskipun membutuhkan biaya yang tidak sedikit, baik itu sekolah berasrama atau tidak. Nah, perbandingan antara gaji ayah saya dengan SPP kami 2:1. Itu baru SPP, belum termasuk uang bulanan kami, belanja kebutuhan rumah, listrik, internet, air, dan berbagai tetek bengek lainnya. Walhamdulillah ‘alaa kulli syai...kebutuhan keluarga tetap tercukupi walaupun pemasukan bulanan lebih kecil daripada pengeluaran. Tidak hanya kebutuhan primer yang terpenuhi tapi juga kebutuhan sekunder kami. Alhamdulillah ‘alaa kulli ni’am. Dan pasti banyak keluarga lain yang mengalami hal seperti ini. Lho koq bisa?
Segala sesuatunya akan menjadi mungkin atas kehendak Allah. Asal kita mau berusaha dan taat kepada Allah niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kita dari arah yang tidak disangka-sangka. Makanya jangan pernah menyerah dan terus berusaha. Yang paling penting terus dan terus meningkatkan ketaqwaan hari demi hari…:D
Wallahu ta’ala a’lam

1 comments:

 

Ich bin Muslime ^^ Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template